Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1 HEADER

Strategi Jitu : Resiko Usaha Dan Cara Mengatasinya

Ketika hujan datang kita akan menanggung resiko badan basah terkena air. Akhirnya kita menunggu hujan sampai reda. Saat menunggu hujan reda kita akan menanggung resiko waktu terbuang. Selalu ada resiko di setiap keputusan. Itulah hidup. Begitu juga dalam resiko usaha. Apa pun bentuk keputusan kita pasti ada resiko yang harus ditanggung. Lalu apa strategi jitu ketika menghadapi resiko usaha dan cara mengatasinya dalam berbisnis ?

Strategi Jitu : Resiko Usaha Dan Cara Mengatasinya

Beberapa bulan yang lalu teman saya mengambil kredit sebesar 70 juta rupiah dari salah satu bank swasta. Uang sebesar itu akan dia gunakan membuat kandang baru ternak ayam kampung arab. Salah satu jenis ayam kampung petelur. Sebelumnya dia sudah memiliki kandang ayam berkapasitas sekitar 200 ekor. Tapi usahanya tidak kunjung besar. Malah hutang semakin banyak. 

Nah, untuk membesarkan usahanya dia memutuskan untuk membesarkan kapasitas kandangnya. Maka dia memberanikan diri mengambil kredit bank (lagi).

BACA JUGATips Cara Usaha Makanan Yang Cocok Untuk Pemula

2 hari sebelum pengucuran dana dari bank, dia mengundang saya berdiskusi. Di kafe? Bukan. Di kandang ayam . Dia bertanya, “apa pendapat kamu, saya sedang mengajukan kredit ke bank. Sudah hampir goal. Perlukah saya membatalkan pengajuan ini?” 

Saya kaget. Oo, sudah diajukan?! Bukannya kemarin kita sudah sama-sama mendengarkan rekaman pengajian Ust. Yusuf Mansyur? Dari sekian banyak nasihat ustadz, yang paling saya ingat adalah JANGAN PERNAH BERHUTANG (LAGI)!. Ustadz Yusuf Mansyur termasuk orang yang kapok punya hutang. Termasuk saya juga ding. Hehe. Jangan-jangan termasuk kalian juga?

Kita pasti pernah/sedang merasakan begitu tersiksanya perasaan saat dikejar-kejar tagihan hutang. Ya, hutang enak di awalnya saja tapi gak enak di tengah-tengahnya. Apalagi harus ditambah dengan beban kebutuhan rumah tangga dan biaya operasional bisnis yang belum menguntungkan. Seperti yang dikeluhkan oleh teman saya hari ini.

Dari dana 70 juta, separuhnya sudah dihabiskan untuk pembuatan kandang berkapasitas 700 ekor. Sisanya untuk membeli 500 ekor ayam arab siap telur (pulet), persediaan pakan, dan menutup hutang lain. Hari ini sekitar 200 ekor telah bertelur. Sudah untung? Pasti belumlah. Yang ada malah nombok untuk biaya operasional. 

Hal yang paling miris dan membuat saya prihatin adalah ketika dia kehabisan uang untuk membeli pakan. Waduh, mau dikasih apa ya ayam-ayamnya? Terpaksa dia pun berhutang lagi.

Selain sedih dengan masalah yang sedang dia hadapi ada tersirat perasaan kagum kepadanya. Ya, saya kagum dia laki-laki yang berani. Berani mengambil resiko. Saya saja belum tentu memiliki kesanggupan yang dia miliki saat menghadapi masalah yang sama. 

Sebagai teman saya tentu tidak mau mengecilkan hati dia. Saya tidak mau menghakimi dia dengan mengatakan, “ya salahmu sendiri kenapa kemarin berani-beraninya nghutang ke bank!”

Nasi sudah jadi bubur tho. Gak mungkin dikembalikan lagi jadi nasi apa lagi jadi beras. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana bubur ini tetap bisa dimakan dengan enak. Begitu juga dengan resiko yang harus ditanggung dalam menjalani bisnis. 

Stres? Sudah pasti dan jangan ditanyakan lagi. Puyeng... 

Rasa-rasanya ingin berhenti saja dari bisnis yang sedang dijalani. Malah mungkin berhenti menjalani kehidupan. Aduh, jangan  pernah ada deh terlintas pikiran semacam ini. Hidup memang penuh masalah.

Apa pun pilihan yang kita putuskan selalu ada resiko. Toh, tidak pernah berani membuat keputusan juga sangat beresiko. Trus bagaimana cara mengatasi resiko bisnis yang dihadpainya?

Strategi jitu menyiasati resiko usaha dan cara mengatasinya?

Terkait pada cerita diatas untuk melakukan cara mengatasi resiko bisnis adalah : 

1. Sedari Awal Sadari Adanya Resiko

Menempuh perjalanan ke Jakarta kita pasti tahu apa resiko yang akan terjadi di jalan raya. Misalnya, mengalami kecelakaan di jalan raya. Tapi lucu kan kalau kita tidak pernah berani pergi ke Jakarta gara-gara resiko yang akan terjadi. 

Kita tidak mungkin bisa terhindar dari resiko! Sejak dari awal kita harus mempertimbangkan resiko apa saja yang akan terjadi. Tapi bukan berarti kita jadi mundur dari peperangan karena takut menghadapi resiko yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Kapan suksesnya?

2. Memperkecil Resiko

Kita tidak mungkin bisa menghindari resiko, tapi ada yang masih bisa kita lakukan. MEMPERKECIL RESIKO DAN MENGELOLA RESIKO YANG SUDAH TERJADI. Ketika menjalani bisnis kita harus sadari bahwa kita membutuhkan manajemen resiko. 

Ibarata kata "Mengolah bubur agar tetap enak dan bisa dimakan". Sebagai pebisnis kita harus mampu membaca apa saja resiko yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Lalu siapkan dari sekarang beberapa opsi agar resiko bisa diperkecil. Misalnya berbentuk rencana antisipasi.

Inilah contohnya. Saya memiliki teman yang bergerak di bisnis MLM dengan produk k3seh4tan. Dia menyadari produknya bukanlah obat dewa. 

BACA JUGA : Peluang Usaha yang Cocok Untuk Pemula

Untuk kasus-kasus tertentu pengobatan memang berhasil. Tapi apalah arti satu botol produk ketika dihadapkan pada penyakit kritis. Lucu memang, dia selalu diminta tolong untuk menangani p4sien dengan kasus penyakit k0mplikasi 4kut dan sudah sangat terlambat untuk di0bati.

Kegagalan peng0batan mungkin saja terjadi. Maka teman saya ini sadar bahwa dia punya hak untuk menolak memberikan layanan. Secara  manusiawi memang seharusnya si p4sien ini ditolong. Tapi teman saya tidak mau menanggung resiko besar ketika peng0batan gagal. Dia tidak mau buang-buang energi memberikan pengertian pada keluarga p4sien yang meninggal akibat kegagalan peng0batan.

Bukan salah 0bat, tapi si p4sien datang pada saat sudah sangat terlambat. Teman saya lebih memilih bekerja ekstra mengedukasi orang-orang yang masih sehat agar mencegah p3ny4kit dan merawat k3s3hatan dengan berlangganan produk-produknya. Resikonya lebih kecil, cuma ditolak.

3. Kreativitas

Hutang uang tentu harus dibayar dengan uang. Paling enak ketika punya hutang tiba-tiba turun dari langit sekarung uang untuk melunasi. Hmmm, kapan ya itu bisa terjadi? Kenyataannya yang sering terjadi kalian tidak punya uang sama sekali untuk melunasi hutang tersebut. 

Sama seperti ketika resiko sedang terjadi, kita seolah-olah tidak punya solusi. Sudah kehabisan akal untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Kita harus menyadari uang boleh saja tidak punya, tapi ada modal lain yang masih kita miliki. KREATIVITAS. Percayalah, masih ada segudang cara untuk menyelesaikan masalah.

4. Upgrade Teknologi Diri

Dari waktu ke waktu selalu muncul varian ponsel baru. Dijejali teknologi dan layanan terbaru. Ini dilakukan agar ponsel bisa menghadapi persaingan dan tuntutan kebutuhan konsumennya. Antivirus harus selalu diupdate, agar bisa menaklukan virus-virus baru. 

Sudahkah otak kita diupdate dengan teknologi dan trik-trik terbaru? Komputer saja harus diupgrade. Dari sisi hardware, otak kita adalah superkomputer. Kita tinggal mengupgrade software otak kita. Bacalah buku, telusuri internet, hadiri seminar, berdiskusilah dengan orang yang ahli dan berpengalaman. 

Tujuannya agar kalian tetap kreatif. Banyak akal untuk menghadapi masalah, meningkatkan omset penjualan, dan membesarkan bisnis kalian.

5. Yakin Kalian Bisa Sukses

Badai Pasti Berlalu, selalu berlaku sampai kapan pun. Percayalah dan yakini kalian bisa menyelesaikan masalah-masalah yang sedang dan akan menimpa. Anggap masalah dan resiko sebagai sahabat yang membesarkan dan mendewasakan kita. Jenis bisnisnya boleh saja berganti, tapi jangan pernah berhenti menjadi pebisnis. Sebab ini salah satu cara terbaik untuk mendapatkan keberlimpahan dan kedewasaan finansial.

6. Memohon Dan Selalu Doa

Doa adalah obat mujarab ketika kita dihadapkan pada masalah. Banyaklah berdoa agar semua resiko dapat terselesaikan karena doa itu juga pintu kemudahan akan terbuka dan terselesaikan. 

Ketika kalian menjadi pengusaha wajar saja banyak resiko yang harus ditanggung. Sebab terkait dengan pekerjaan melayani banyak orang. Seperti teman saya yang beternak ayam. Dialah orang yang bersedia berpusing-pusing ria agar orang lain bisa mendapatkan gizi dari telur ayam kampung. 

Coba kalau gak ada peternak, kalian mau ngurus ayam dengan bau kotorannya? Seperti teman saya yang bergerak di MLM k3s3hatan. Dialah orang yang bersedia menyadarkan kita tentang pentingnya menjaga k3s3hatan.

Bagi saya, mereka telah memilih melayani Tuhan dengan menanggung banyak resiko. Seperti kalian yang saat ini sedang merasakan sesaknya dada dihimpit masalah-masalah  dalam bisnis kalian. 

Tetaplah semangat, dan ingtlah kalian sedang melayani Tuhan. Dialah yang akan membantu kalian dan mengantarkan kalian meraih kesuksesan. Itulah sharing saya tentang strategi jitu resiko usaha dan cara mengatasinya dalam berwirausaha.

Semoga bermanfaat.

Baca juga: